selamat datang.. mari share segala informasi ^^
Tampilkan postingan dengan label way of success. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label way of success. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2011

Kisah ibu kodok dan anak kodok


Anak kodok: Ibuuu gelap sekali aku takut (sambil bersembunyi dibelakang ibunya).

Ibu kodok: Tenang nak.. Gelap itu pertanda baik untuk qt.

Anak kodok: Ibuuuuu cahaya apa itu.. a.. aku takut skali..

Ibu kodok: Itu kilat nak, jangan takut.

Anak kodok: aaaaaa.. Ibuuu suaranya menakutkan sekali (ia memeluk ibunya).

Ibu kodok: Tenanglah nak, sebentar lagi akan datang yang kita tunggu.

Lalu turunlah rintik2 hujan...

Anak kodok: horeee hujan turun.

Ibu kodok: nah.. lihatlah.. Hujan datang setelah gelap yang mencekam, kilat yang menakutkan dan petir yang menggelegar nak.. seperti itu pula kehidupan. masalah.. kesulitan.. kerja keras.. semua itu adalah awal untuk memulai kesuksesan.

[+/-] Selengkapnya...

Taufik Ismail : Ulang Tahunku

1
Seminggu lalu
datanglah undangan
untuk kami anak-anak penghuni panti asuhan
diantarkan seorang ibu
dan anak gadisnya.

Sekolahnya kira-kira di SMA
mereka naik Corolla biru

dari pakaian, cara bicara dan perilaku
kelihatan tamu ini orang gedongan
golongan yang hidup lebih dari kecukupan.

Mereka mengundang
anak-anak panti asuhan
untuk ikut acara ulang tahun
Rebo jam tujuh malam.

Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan
berjumlah dua puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama
jalan kaki bersama, karena jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja.

Rombongan disilakan masuk dengan ramah
dan anak-anak berusaha duduk di belakang-belakang saja
tapi disuruh berbaur dengan tamu-tamu lainnya
para remaja belasan tahun
mereka sehat-sehat, harum-harum
berbaju mahal dan tembem-tembem pipinya

saya berjuang melawan sifat minder saya
duduk di tengah ruang tamu yang luas.
Di atas karpet bersila, pegal dan canggung
di antara jajaran barang antik dan macam-macam perabotan
di bawah lampu kristal bergelantungan.

Tapi alangkah aku jadi heran
tidak ada acara potong kue dan tiup lilin
tidak ada tepuk tangan mengiringi
lagu Hepi-Bisde-Tuyu Hepi-Bisde-Tuyu.

2

Lalu seorang remaja membaca
Surah Luqman dengan suara amat merdunya
dan suaranya berubah jadi untaian mutiara
yang berkilauan jadi kalung di leher pendengarnya.
Kemudian

Lia yang berulang tahun
berpidato sangat mengharukan
dalam acara seperti ini
bukan saya yang jadi pusat perhatian
diperingati atau dihargai
tapi mamaya, mama kita
ibunda kita dan ayahanda.

Ibunda dan ayahanda
pusat perhatian kita.

Hari ini, enam belas tahun yang lalu
mama melahirkan saya
posisi saya sungsang
saya terlalu besar
jadi mama harus sectio caesaria
mama dibedah,berdarah-darah
seluruh keluarga khawatir dan berdoa

di luar ruang operasi
duduk menanti berita
dalam kecemasan luar biasa

tapi alhamdulillah
kelahiran selamat
walaupun mama sangat menderita

Sekarang ini, enam belas tahun kemudian
ulang tahun saya dirayakan
saya pikir, tidak logis saya jadi pusat perhatian
harus mama yang jadi pusat perhatian
mama. Bukan saya

saya pikir, tidak logis saya minta kado
harus mama yang diberi kado
Anak gadis itu berhenti sebentar
dia sangat terharu
kemudian dia mengambil sebuah bungkusan
kertas berkilat, diikat pita berbentuk bunga.
Mama
terima kasih mama, terima kasih

mama telah melahirkan
saya dengan susah payah
mama menyabung nyawa
berdarah-darah.
Persis malam ini, 16 tahun yang lalu
terimalah rasa terima kasih ananda
tidak seberapa harganya.

Mamanya berdiri
terpukau pada kata-kata anak gadisnya
terharu pada jalan pikirannya
yang dia tak sangka-sangka
dia langsung memeluk anaknya
terguguk-guguk menangis
keduanya tersedu-sedu
hadirin menitikkan air mata pula
suasana mencekam terasa
dan hening agak lama

3

Kemudian kakak pembawa acara berkata
para hadirin yang mulia
ini memang kejutan bagi kita
karena dengan tahun yang lalu
acara ini berbeda

Lia tidak mau tiup lilin jadi acara
karena ditemukannya di ensiklopedia
Manusia di Zaman Batu di Eropah
percaya pada kekuatan nyala lilin, begitu tahayulnya
bisa mengusir sihir, roh jahat, leak dan memedi
begitu katanya termasuk si jundai, setan, hantu, kuntilanak dan gendruwo.
Dan itu berlanjut ke zaman Romawi kuno
lalu dikarang lagi
berikutnya superstisiya
itu apabila lilin-lilin itu sekali tiup nyalanya semua mati.
Maka akan terkabul apa yang jadi cita-cita di dalam hati.
Lia tidak mau acara ulang tahunnya
oleh tahayul jadi bernoda acara yang ditentukan oleh budaya jahiliah zaman purbakala.

Katanya: “Kok tiupan nyala 16 lilin bisa menentukan nasib saya?
Allah yang menentukan nasib saya.
Sesudah kerja keras saya
saya tidak mau dibodoh-bodohi tahayul
walaupun itu datangnya dari barat atau pun timur juga.

Saya tidak mau dibodoh-bodohi budaya mereka
minta kado dari papa dan mama
minta kado dari keluarga dan
kawan-kawan saya.
Saya tidak mau cuma jadi kawanan burung kakak tua
burung beo yang pintar meniru adat Belanda dan Amerika
dalam acara ulang tahun kita
begitu katanya.

Sesudah bertangis-tangisan dengan ibunya
berkatalah yang berulang tahun itu
Hadiah paling saya harapkan dari kalian adalah
doa bersama sesudah hamdalah dan shalawat
karena saya ingin jadi anak yang baik laku
jadi perhiasan di leher ibuku
jadi penyenang hati ayahku
rukun dengan kakak-kakak dan adik-adik
kubertegur-sapa dengan semua tetangga
dan kelak ketika dewasa berguna bagi Indonesia.

4

Anak yatim piatu yang mendapat undangan itu
lihatlah bersama kawan-kawannya
disilakan makan bersama-sama
dengarlah kisah kesannya.

Kini, dalam acara makan kunikmati nasi beras Rajalele yang putih gurih
dendeng tipis balado, ikan emas panggang dan udang goreng,
besar dan gemuk-gemuk
belum pernah aku memegang udang sebesar itu.
Di asrama ikan asin dan tempe seperti nyanyian yang nyaris abadi
kadang-kadang makan pun cuma sekali sehari.

Ketika kulayangkan pandangku ke depan
kulihat tuan rumah yang baik hati itu bapak dan ibu itu
berdiri bersama Lia anak gadisnya berbicara amat mesranya.

Kubayangkan ayahku almarhum
mungkin seusia dengan bapak ini
beliau meninggal ketika umurku setahun.

Kubayangkan ibuku almarhumah
wafat ketika aku kelas enam SD
mungkin seusia pula dengan ibu itu.
Tidak pernah aku merayakan ulang tahunku
Tidak pernah.
Semoga sorga firdaus jua
Bagi ibu bapakku

Panas mengembang di atas pipiku
tak tertahan
titik air mataku.

Taufik Ismail, 2007 

[+/-] Selengkapnya...

Antara Ibu, Anak, dan Burung Gagak

Pada suatu petang, seorang tua bersama anak mudanya yg baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba, seekor burung gagak hinggap di ranting.

Si Ibu lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah benda itu?"
"Burung Gagak", jawab si anak.
Si Ibu mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yg sama.
Si anak menyangka Ibunya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat, "Itu burung gagak, Ibu!!"
Tetapi sejurus kemudian si Ibu bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
"BURUNG GAGAK!!!" Si Ibu terdiam seketika.
Namun, tidak lama kemudian, sekali lagi sang Ibu mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kebaran dan menjawab dengan nada yg kesal kepada si Ibu,
"Itu gagak, Ibu!"
"Ibu! Saya tak tau Ibu paham atau tidak. Tapi, sudah 5x Ibu bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ibu mau saya katakan??? Itu Burung Gagak, Burung Gagak, Ibu!!"
kata si anak dengan nada yg begitu marah.

Si Ibu lalu berjalan menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan.
Sesaat kemudian, si Ibu keluar lagi dengan sesuatu ditangannya.
Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya.
Diperlihatkannya sebuah diary lama.
"Coba kau baca apa yang pernah Ibu tulis dalam diary ini", pinta si Ibu.
si Anak setuju dan membaca paragraf yang berikut :

Hari ini, aku di halaman melayani anakku yang genap berumur 5tahun. Tiba-tiba, seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, "Ibu, apa itu?" Dan aku menjawab, "Burung gagak sayang".
Walau bagaimanapun, anakku terus bertanya soal yg sama, dan aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25x anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.

setelah membaca diary tersebut, si anak memandang wajah si Ibu yanga kelihatan sayu.
Si Ibu perlahan berkata, "Hari ini, Ibu bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5x, dan kau telah hilang kesabaran serta marah".
seketika si anak itu menangis dan bersimpuh di kedua kaki ibunya memohon ampun atas apa yang telah ia perbuat.

**Jagalah hati dan perasaan kedua orang tua Anda, hormatilah mereka. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil**

[+/-] Selengkapnya...

TELUR KURA-KURA

Di sebuah hutan, ada seekor kura-kura yang sangat kelelahan karena baru saja bertelur. Rasanya ia ingin makan enak, tapi ia tidak ingin meninggalkan telur-telurnya tanpa penjagaan.

Lalu sang kura-kura pergi menemui temannya seekor kuda dan memintanya untuk menjaga telur-telurnya karena ia ingin pergi mencari makan. Ia mewanti-wanti sang kuda untuk menjaga baik-baik telurnya dan kuda pun setuju.

Di sungai kura-kura melihat anak-anak udang berenang-renang sangat menggiurkan. Tentu saja ini merupakan santapan yang enak, pikirnya dalam hati. Kura kura berenang mendekat siap menyantap udang.

Tiba-tiba…dung…dung….dung…

Sebuah genderang perang terdengar di seluruh hutan.
Mendengar genderang perang, kuda langsung mengambi posisi berdiri tegap siap pada posisi tempur. Tanpa sengaja sang kuda menginjak telur-telur kura-kura dan memecahkan semuanya.

Kura-kura yang panik mendengar genderang perang juga segera kembali untuk menjaga ke telur-telurnya. Tapi betapa sedih ia melihat telur-telurnya hancur. Apalagi ternyata tidak ada perang. Ia marah pada kuda yang tidak menjaga telurnya dan melaporkan masalah ini pada raja hutan.

Raja bertanya kepada kuda kenapa ia menghancurkan telur kura kura. “Aku tidak sengaja, karena ada genderang perang yang ditabuh monyet aku langsung berdiri siap, menghentak-hentakkan kaki, dan mengambil posisi siap tempur” kata kuda menjelaskan.

“Berarti ini dipicu oleh genderang perang yang ditabuh monyet. Segera panggil monyet,” titah raja.
Setelah monyet datang, raja bertanya kepada monyet kenapa ia memukul genderang perang.
“Aku memukul genderang perang karena melihat gajah-gajah mengasah gading mereka bersiap untuk perang,” jawab monyet.

“Berarti ini dipicu oleh aktivitas gajah mengasah gading mereka. Segera panggil gajah,” titah raja. Setelah gajah datang, raja bertanya kepada gajah kenapa ia mengasah gading bersiap untuk perang.
“Aku mengasah gading karena melihat badak mempertajam cula mereka untuk perang,” jawab gajah.

“Berarti ini dipicu oleh aktivitas badak mempertajam cula mereka. Segera panggil badak,” titah raja.
Setelah badak datang, raja bertanya kepada badak kenapa ia mempertajam culanya untuk bersiap perang.
“Aku mempertajam cula karena melihat beruang mengasah cakar dan giginya untuk bersiap perang,” jawab badak.

“Berarti ini dipicu oleh aktivitas beruang mengasah gigi dan cakarnya. Segera panggil beruang,” titah raja.
Setelah beruang datang, raja bertanya kepada beruang kenapa ia mengasah gigi dan taringnya untuk bersiap perang.
“Aku melakukannya karena ketika berada di sungai aku melihat para udang bersiap dengan tanduk mereka pada posisi siap tempur, ” jawab beruang.

“Berarti ini dipicu oleh aktivitas udang yang bersiap dengan posisi tempur dengan tanduknya, segera panggil udang,” titah raja.
Setelah udang datang, raja bertanya kepada udang kenapa mereka menyiapkan tanduk mereka pada posisi siap tempur sehingga memicu semua masalah.
“Tentu saja kami dalam posisi tempur. Karena kami melihat ada kura-kura datang dan terlihat sangat ingin menerkam anak-anak kami yang sedang bermain, ” jawab udang membela diri.

“Berarti ini dipicu oleh kura-kura yang bersiap memakan anak-anak udang,” kata raja menyimpulkan.
Raja kemudian menengok pada kura-kura yang melaporkan kasus pecahnya telurnya. “Apakah benar kamu kura-kura bersiap memakan anak-anak udang?” tanya raja ke kura-kura untuk memastikan.
“Betul tuan raja, saya memang berniat memakan anak-anak udang,” jawab sang kura kura menyesal.

“Akhirnya kita bisa lihat bagaimana kejadian ini bermula, ternyata semua ini bermula dari kamu sendiri!” seru raja memutuskan.

Kura-kura pun berlalu, menyesali tindakannya yang memicu semua peristiwa yang mengakibatkan telurnya hancur.

Apa hikmahnya?

Kadang kita dengan mudah menyalahkan orang lain atas suatu peristiwa, padahal kita punya andil dalam kejadian tersebut.

Ada ayah yang marah karena anaknya menginjak piring makanannya yang diletakkan di lantai, padahal seharusnya piring tidak diletakkan di lantai.

Ada orang tua marah pada anaknya yang malas belajar, padahal sejak kecil orang tua memberikan pola hidup yang memanjakan anak.

Ada bos yang marah karena anak buahnya tidak disiplin padahal ia sendiri sering mencontohkan datang terlambat.

Ada guru yang marah karena muridnya malas, padahal ia tidak mampu membangkitkan motivasi belajar.

[+/-] Selengkapnya...

perbuatan yang luar biasa

 Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “PERBUATAN LUAR BIASA”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya kanak-kanak yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China. Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.

Sejak ia berusia 10 tahun ( tahun 2001 ) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Sejak itu Zhang Da, demikian nama anak itu, hidup dengan sang ayah yang tidak bekerja, tidak bisa berjalan dan sakit-sakitan. Ia masih terlalu kecil untuk memikul tanggung jawab yang berat itu, namun ia tetap berjuang.

Ia bersekolah dengan berjalan kaki melewati hutan kecil. Karena tidak sarapan, diperjalanan itu ia makan daun-daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang ia mencoba memakan sejenis jamur atau rumput, sehingga ia tahu mana yang masih bisa diterima lidahnya dan mana yang tidak. Pulang sekolah, ia bekerja membelah batu-batu besar. Upah sebagai tukang batu digunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk ayahnya.

Setiap hari ia menggendong ayahnya kekamar mandi, menyeka dan juga memandikan ayahnya. Ia membeli beras dan membuatkan bubur untuk makan ayahnya. Segala urusan ayahnya lainnya pun ia yang mengerjakannya sendirian. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengobati sang ayah. Ia pun belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Ia mempelajari bagaimana seorang suster memberikan suntikan. Setelah merasa mampu, ia sendiri yang menyuntik ayahnya.

Ketika acara penganugerahan penghargaan tersebut berlangsung, pembawa acara bertanya apa yang diinginkan Zhang Da ” Apakah uang atau lainnya. Disini ada banyak pejabat, pengusaha, juga ada ratusan juta penonton telivisi, mereka bisa membantu mu!” Namun apa yang dikatakan Zhang Da sungguh mengejutkan siapapun, ia hanya berkata, ” Aku hanya ingin Mama ku kembali!.”

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah. Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya. Ada anak yang sudah sekolah di SD masih disuapi, dan memakai bajupun masih dibantu.

MORAL:
Potensi anak sering muncul justru ketika ditempa kesulitan, jika langkah anak selalu dimudahkan maka kreatifvitas dan daya juangnya pun tidak akan tumbuh. Oleh karena itu, ada pepatah mengatakan, ” JANGAN MUDAHKAN HIDUP ANAK HARI INI, UNTUK MENYULITKANNYA DI KEMUDIAN HARI.”

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 20 Februari 2011

Kisah Nyata, Berawal Dari Segelas Air

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin... ke dalam gelas. Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur” Suara itu berasal dari mulut seorangi insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.

Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajemen Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur ?

Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan”DENDAM POSITIF”

Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.

Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu.
Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi.
Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja?. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnyamenyusul yang lain.

Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuahjabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Akuingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu.Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini. “

Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

Tahukan Anda apa perusahaan yangdipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company)perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Tahukah kisah siap ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan MineralArab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan”DENDAM POSITIF” Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita. Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.

Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat “Dendam Positif.”
sumber:  http://www.iswandibanna.com

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 08 Februari 2011

paradigma aneh yang dianggap lumrah

setiap hari seorang ibu terus menasehati anak keduanya untuk melaksanakan solat lima waktu.
Ibu: "Risnaaa! sudah jam setengah 2. kamu dah solat belum?"
Anak kedua: "belum. ia bentar lagi. bawel banget sih!"
Ibu: "Mau solat jam berapa kamu??"
Anak:"Entar ahhhh" (wajahnya cemberut)
Ibu: "Kamu dibilangin susah banget sih!"
Anak: "iya!! iya!! lagian kenapa cuma saya doang sih yang disuruh?? itu si kaka engga?? gak adil!!" jawabnya menggerutu. 

seseorang yang dinasehati untuk kebaikannya tapi justru marah-marah dan merasa diperlakukan tidak adil. aneh ya? tapi itu lah yang terjadi. dan mungkin saja hal tersebut sering kita alami. kala setan menggoda maka sesuatu yang baik menjadi sangat menyebalkan. ngaku gak?! hehe. as a sinner, saya mengakui itu. saya juga pernah bersikap seperti sang anak. bahkan mungkin sering. tapi saya segera sadar bahwa betapa orang yang menasehati kita begitu sayang dengan kita.

hal kedua yang mungkin aneh bagi saya adalah, mengapa orang cenderung menasehati orang yang sudah biasa berbuat kebaikan? dalam artian ia sering melakukan kebaikan tapi mungkin saja suatu saat ia khilaf dan melakukan kesalahan. sedangkan untuk orang yang jarang melakukan kebaikan, jarang pula dinasehati. misalnya dalam cerita di atas, anak pertama jarang solat. setiap dinasehati ia tidak pernah menurut. sehingga akhirnya sang ibu tidak pernah menasehati ia lagi dan hanya menasehati anak kedua. sungguh janggal. tapi hal ini juga sudah lumrah terjadi di kehidupan kita. kasian ya tuh kakak. udah ga bener, ga diperhatikan pula hehe.

[+/-] Selengkapnya...